Berawal dari Onde-onde Ketawa,Chococawa Menembus Pasar Nasional,Melalui Akses Pembiayaan UMKM

oleh

Makassar 30 Oktober 2026,beritayang.com-Kota Makassar merupakan ibu kota propinsi Sulawesi Selatan.Kota ini di juluki kota angin mamiri yang identik dengan kuliner dan jajanan khasnya,salah satu adalah Onde-onde ketawa.

Onde-onde ketawa merupakan salah satu produk dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang di beri nama Mariqi Cake and Snack.

 

Mariqi merupakan singkatan yang diambil dari nama pemilik usaha yakni Mariatul Qiftih. Sementara secara filosofi bugis-makassar,”Mariki” “yang artinya sebuah ajakan.
Ajakan untuk Sukses bersama.
Ajakan untuk selalu produktif.
Ajakan untuk menebar kebahagian.
Ajakan untuk menebar kebaikan,dan ajakan untuk menebar usaha bersama.

” mariki diambil dari singkatan nama saya Mariatul Qiftih disingkat Mariqi tapi filosofinya itu mengangkat bahasa lokal. Mariki dari bahasa lokal Makassar yang berarti sebuah ajakan.”

Mariatul Qiftih Owner Mariqi Cake and Snack menceritakan awal-mulanya menekuni usaha kue dan cemilan di Makassar pada tahun 2013 lalu,ketika dirinya masih tercatat sebagai mahasiswi kebidanan di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar.
Usaha pertamanya yang di rintis Mariatul yaitu onde-onde ketawa.Pembuatan onde-onde ketawa terinspirasi dari neneknya yang sering membuat onde-onde untuk hidangan cemilan keluarga.Pada Saat di rintis kue onde-onde ketawa,Mariatul Qiftih bermodal nekat dengan mengunakan uang kuliahnya ( SPP) pemberian orang tuanya.
Kue Khas Sulawesi Selatan onde-onde ini berbentuk bulat,berisi coklat di dalamnya dan di taburi wijen di luar,jika di cubit,kuenya akan mekar dan terlihat terbuka seperti orang ketawa.

Hasil pembuatan kue onde-onde ketawa di promosikan ke teman-teman kuliah dan dosen di kampusnya kala itu,dan mendapat respon positif dari kalangan mahasiswa dan dosen.

Onde-onde ketawa semakin laris dan di kenal oleh masyarakat,Mariatul pun mulai mengembangkan usaha turunan yaitu kue kering Chococawa yang berarti coklat kacang ketawa.Kata Cawa di ambil dari bahasa Bugis yang artinya ketawa.
Chococawa memiliki Tujuh Varian rasa yaitu Varian Rasa Coklat Original,Varian Rasa Coklat Green tee,Varian Rasa Coklat Keju,Varian Coklat rasa Pedas,Varian Coklat Jahe,Varian Coklat Mint,dan Varian Coklat rasa rumput laut.

Mariqi Cake and Snack Mampu memproduksi 2.000 hingga 4.000 pcs Chococawa dengan berbagai varian rasa setiap bulan.

Harga Chococawa dengan Berbagai varian rasa cukup terjangkau yakni 15 hingga 35 ribu rupiah per pcs.
Mariatul Mengungkapkan Strategis Promosi Chococawa melalui media sosial Facebook,instgram,tiktok,dan Whatsup.Tak hanya di media sosial,Mariatul menjalin kerjasama dengan pihak hotel,supermarket,retail,toko oleh-oleh,dan instansi terkait sebagai Godybag.
Selain itu Mariatul membuka kemitraan dan reseller di seluruh Indonesia.

” Hingga kini terdapat puluhan reseller chococawa yang tersebar di Sulawesi Selatan, Jawa,Kalimantan,Nusa Tenggara Timur dan Papua.ujar Mariatul.”

Keberhasilan Chococawa menempus pasar nasional tidak terlepas dari dukungan sektor perbankan yang memperluas jangkauan kredit UMKM dan akses pembiayaan lainnya.
Mariatul mengaku sangat terbantu dengan adanya peranan dari otoritas jasa keuangan Sulsel-sulbar memperluas akses keuangan dan pembiayaan dari industri jasa keuangan di Sulawesi selatan.

” Sangat terbantu sekali dengan adanya layanan keuangan dan akses pembiayaan dari industri jasa keuangan di Sulsel,sehingga usaha kami bisa berproduksi terus.”ungkap Mariatul.”

OJK Perluas Akses Pembiayaan, Kredit UMKM Sulawesi Selatan Tumbuh Positif

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat terus mendorong perluasan akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Selatan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat sektor usaha produktif, meningkatkan daya saing, serta mendorong UMKM agar tumbuh dan naik kelas.

Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, menilai akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pengembangan UMKM. Dukungan permodalan yang memadai diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, dan menciptakan peluang kerja baru.

Berdasarkan data OJK yang pada Juli 2026, penyaluran kredit UMKM di Sulawesi Selatan hingga April 2026 mencapai Rp61,66 triliun, atau sekitar 36,05 persen dari total kredit perbankan di daerah tersebut. Pembiayaan itu menjangkau 904.541 debitur.

Muchlasin mengatakan, UMKM memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian daerah. Karena itu, dukungan industri jasa keuangan perlu terus diperkuat agar semakin banyak pelaku usaha yang dapat mengakses pembiayaan formal sesuai kebutuhan dan kemampuan usahanya.

Perluasan akses pembiayaan, menurutnya, juga perlu diiringi dengan peningkatan kualitas usaha. Pelaku UMKM perlu memperkuat pencatatan keuangan, menyusun perencanaan bisnis, serta menjaga kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran agar dapat memperoleh kepercayaan dari lembaga jasa keuangan.

Selain itu, sinergi antara OJK, perbankan, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi UMKM dalam mengakses permodalan. Kendala tersebut antara lain keterbatasan agunan, administrasi usaha yang belum tertata, dan minimnya pemahaman terhadap produk pembiayaan.

OJK juga mendorong penguatan literasi dan inklusi keuangan agar pelaku usaha dapat memahami berbagai pilihan pembiayaan yang tersedia, termasuk manfaat, risiko, dan kewajiban yang menyertainya.

Dengan dukungan pembiayaan yang tepat serta pendampingan berkelanjutan, UMKM di Sulawesi Selatan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan memperkuat keberlanjutan usaha.

Upaya perluasan akses pembiayaan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif sekaligus memperkuat kontribusi UMKM terhadap perekonomian Sulawesi Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.