Makassar, 17 Agustus 2026,beritayang.com – Warga bersama jajaran RT/RW hingga Kelurahan Tabaringan bergotong Royong menata dan mempercantik Lorong 154, Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, dengan membuat lukisan dinding di sepanjang lorong tersebut. Perubahan ini terjadi setelah PT Pelindo Jasa Maritim menggulirkan program gerakan lingkungan dan kebersihan di kawasan permukiman padat penduduk itu. Lurah Tabaringan, Adiningrat Putra Sainal, S.Pd., Lc., Gr., menyampaikan hal tersebut sembari mengapresiasi perubahan kondisi lingkungan yang terjadi secara bertahap sejak program berjalan.
Menurut Adiningrat, sebelum program dari PT Pelindo Jasa Maritim hadir kondisi Lorong 154 tergolong biasa saja dan belum menunjukkan perubahan berarti dari sisi kebersihan maupun estetika lingkungan. Ia menilai edukasi kepada warga soal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan saat itu masih perlu ditingkatkan secara berkelanjutan agar kebiasan lama benar-benar bisa berubah.setelah gerakan lingkungan tersebut di gulirkan, warga di lorong itu mulai tergerak untuk beraktivitas secara kolektif dan mengambil langkah yang berbeda dari kebiasan sehari-hari sebelumnya.
“Alhamdulilah, setelah adanya gerakan lingkungan kebersihan dari PT Pelindo Jasa Maritim, dengan adanya kegiatan ini kami mulai terdorong untuk bergerak melalukan sesuatu yang lain daripada yang lain, untuk mengubah kebiasan yang masih kurang baik menjadi lebih baik lagi.” ujar Adiningrat Putra Sainal.
Ia menjelaskan bahwa dorongan perubahan itu turut menggerakan warga secara umum di Kelurahan Tabaringan dan secara khusus di lingkup RT setempat untuk bergerak bersama menata lingkungan. Adiningrat menyebut bahwa kunci utama keberhasilan gerakan ini terletak pada kekompakan warga beserta jajaran pimpinan RT dan RW yang sudah lebih dulu terbangun di lingkungan tersebut, ditambah keteladanan yang ditunjukkan langsung oleh kepalah wilayah setempat sebagai motivator terbesar bagi warganya untuk bergerak menuju lingkungan yang lebih berkualitas. Kendati demikian, Adinigrat mengakui bahwa mengajak seluruh warga untuk turut serta bukan perkara mudah dan menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program ini dilapangan. Ia menyebut tantangan terbesar justru muncul pada tahap awal mengajak partisipasi warga secara menyeluruh.
“Tantangan terbesarnya itu adalah bagaimana kita bisa merangkul warga untuk turun membantu kerja bakti,kerja sama warga RT/RW untuk menuju satu tujuan yang sama,” sambung Adiningrat Putra Sainal.
Dari tantangan tersebut, pihak kelurahan bersama pengurus RT/RW secara bertahap memberikan kesadaran dan edukasi yang lebih matang kepada seluruh warga, termasuk tetangga sekitar lorong, agar semakin banyak pihak yang mau terlibat langsung. Adiningrat menyebut dukungan penuh dari PT Pelindo Jasa Maritim menjadi faktor penting yang turut menopang keberlangsungan program, termasuk dalam pelaksanaan kegaiatan-kegiatan berskala lebih besar di lingkungan tersebut. Ia turut memberikan apresiasi khusus atas keteladanan yang ditunjukkan langsung oleh jajaran perusahaan dalam meemberikan edukasi kepada warga, yang menurutnya membuat masyarakat semakin berempati dan memiliki rasa saling menghargai untuk bergotong royong satu sama lain.
“Kami selaku kepala Kelurahan Tabaringan sangat berterima kasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam, mewakili segenap warga Kelurahan Tabaringan, RT/RW, serta seluruh perangkat kelurahan atas apa yang telah diselenggarakan oleh PT Pelindo Jasa Maritim ini,” ujar Adinigrat Putra Sainal. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa hasil nyata di lapangan menjadi bukti utama keberhasilan sebuah program,bukan sekedar narasi yang disampaikan secara lisan kepada masyarakat.
SVP Sekretaris Perusahaan Tubagus Patrick menyebutkan, “Gerakan lingkungan dan kebersihan yang digagas PT Pelindo Jasa Maritim di Lorong 154 adalah bagian dari program TJSL yang sudah dilakukan sejak lama. Selain lomba lukisan dinding di tahun ini, sebagai bagian menjaga kelestarian lingkungan, PJM juga telah di tahun sebelumnya berkontribusi menyulap lahan bekas tambang batu bata di era belanda di Gowa, Sulawesi Selatan, menjadi Denassa Botanical Garden. Transformasi ekologis ini dilakukan secara bertahap untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati kawasan Wallacea yang semakin tertekan.”
“Kolaborasi warga kelurahan dan sektor korporasi dalam menata kawasan permukiman padat penduduk di pesisir Kota Makassar perlu ditingkatkan di tahun – tahun mendatang. Perubahan yang dihasilkan, mulai dari kesadaran kolektif warga hingga lukisan dinding di sepanjang lorong, menunjukkan bahwa keberlanjutan sebuah program lingkungan sangat bergantung pada kekompakan masyarakat dan keteladanan para pemangku kepentingan di tingkat lokal.”, tutup Tubagus Patrick.






